Front Mahasiswa Papua dan Rakyat Papua Gelar Aksi Tolak Otsus Jilid II, Kapolres Manokwari : Berjalan Damai dan Tertib

  • Whatsapp

Jurnal RB Polri, Manokwari – Sejumlah kelompok massa menggelar aksi unjuk rasa didepan kampus universitas Papua (UNIPA) menolak terhadap pemberlakuan otonomi khusus (Otsus) jilid II yang selama ini diterapkan di seluruh wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat. Aksi Unjuk Rasa kelompok massa tersebut mengatasnamakan Front Mahasiswa.

Front mahasiswa dan rakyat provinsi Papua barat tolak otsus jilid II dan siap gelar referendum. Otsus jilid II bukan untuk rakyat papua segera berikan penentu nasib sendiri bagi rakyat papua. Demikian beberapa kalimat tertulis di pamflet dan spanduk, saat menggelar aksi demo damai yang berjudul Tolak Otsus Jilid II, di Wilayah Kabupaten Manokwari, Sabtu (21/11).

Dalam aksinya, massa juga memegang selebaran kertas yang bertuliskan 21 November 2021 awal kehancuran rakyat papua, sedangkan 21 november 2020 kebangkitan rakyat papua tolak otsus jilid II.

Disaat bersamaan, Kapolres Manokwari AKBP Dadang K. Winjaya, Sik, Menuju Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua Barat (DPRPB) untuk melakukan koordinasi dengan Sekwan DPRPB.

“Kami coba menghadirkan anggota DPRPB untuk menerima Aksi Damai dari kelompok Front Mahasiswa dan masyarakat Papua,” ujar AKBP Dadang K. Winjaya.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak inginkan, lanjutnya, Kapolres Melakukan koordinasi dan menghimbau kepada massa agar melakukan aspirasi secara damai dan tetap patuhi Protokol kesahatan.

“Lakukan aksi dengan damai, jangan Anarkisme dan selalu mematuhi Protokol kesehatan Covid – 19,” himbau Kapolres.

Korlap Aksi Demo Tolak Otsus dari  Simpatisan KNPB Erik Aliknoe dan Arnold Halitopo dari FIM  Front Rakyat Papua Apey Tarami dalam orasinya mengatakan, hari ini pada tanggal 21 November kita rakyat Papua sepakat Menolak Otsus karena kami menilai bahwa Otsus gagal di tanah Papua. Aksi hari ini adalah aksi damai, untuk menyuarakan penolakan Otsus. Kita rakyat Papua mendesak kemerdekaan bagi Papua.

“Saat ini sudah waktunya jadi kita bergerak cepat menuju kantor DPRPB. Aksi kami dalam mendukung Rapat dengar pendapat (RDP)yang telah kami laksanakan oleh Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB).  Kita harus berjuang, bangkit dan lawan jangan kita hanya berdoa saja, Jadi kita bangkit dan lawan. Bagi saudara sekalian mari bergabung, jangan harga diri kita dibeli dengan uang.” kata korlap dalam orasinya.

Menurut Erik Aliknoe, banyak permasalahan yang terjadi di Papua yang tidak diselesaikan oleh Kolonial Indonesia, maka solusinya adalah Papua Merdeka. Papua merdeka, kita harus bangkit, karena begitu banyak pembunuhan di Papua.

“Saat ini ekonomi Papua telah dikuasai pendatang, mama – mama kita hanya jual pinang selama 1×24 Jam. Jadi, kita jangan takut, kita hanya menyuarakan pendapat dan itu dilindungi,” tegasnya.

Lanjutnya, bahwa kita akan jalan dan bergabung dengan teman – teman kita di bawah. Mari kita jalan dan semua masuk dalam tali komando. Kita menuju Kantor DPRPB, nanti kita sampaikan aspirasi kita disana, dan kita bacakan pernyataan sikap di DPRPB.

“Ayo kita satu komando, DPRPB hadir atau tidak kita tidak tau, dan kita sampaikan bahwa Otsus berakhir hari ini dan rakyat Papua siap melaksanakan Referendum,” imbuhnya.

Mengakhiri aksi menolak Otsus, front mahasiswa membacakan 7 pernyataan sikap kepada MRPB dan DPRPB terkait UUD otonomi khusus papua nomor 21 thn 2021.

7 pernyataan sikap penolakan Otsus tersebut dibacakan Yaliahun aliknoe alias yohanes aliknoe

Sikap pertama adalah untuk perubahan uud ini dapat diajukan oleh rakyat provinsi papua melaluai MRP dan DPR maka kami mhasiswa rakyat papua menolak kelanjutan otsus jilid II dan kami siap menggelar referedum sebagai solusi untuk kami bangsa PB.

Sikap yang kedua, pihak kepolisian stop mendikriminasi para MRP Papua dan PB dan Kapolda Papua PB segera mencabut maklumat yang dikeluarkan, karena kami Mahasiswa dan rakyat Papua menilai bahwa MRP menjalankan amanat UUD otsus thn 2021 utk menyenangkan suara hati org papua.

Ketiga, pemerintah NKRI jangan mengatur UUD kelanjutan otsus jilid II di jakarta, tetapi datang ke Papua dan hasrat keinginan atau suara hati rakyat Papua.

Keempat, kami mahasiswa dan rakyat papua barat meminta kepada NKRI hentikan semua tawaran dialog antara jakarta dan masyarakat papua khususnya indonesia untukuk masalah kasus politik papua.

“Kelima, kami mahasiswa semuanya rakayat papua barat mendukung dan menjawab pernyataan sikap 7 poin yg dibuat dalam rapat dengar (RPD) pendapat yang diselenggarakan oleh MRP barat pada tanggall 1 dan 6 lalu,” jelasnya dilokasi.

Pernyataan sikap Keenam, kami mahasiswa dan rakyat papua barat menolak dengan tegas semua tawaran Jakarta untuk melanjutkan Otsus jilid II karena kami masyarakat papua barat siap berlindung diatas tanah leluhur kami sendiri.

“Terakhir, ketujuh, Jika keenam pion tersebut diatas ini tidak diindahkan maka Mahasiswa dan rakyat papua barat dari sorong sampe merauke siap melakukan aksi mogok nasional,” tegasnya.

Aliknoe mengatakan, pihaknya berharap agar 7 pernyataan sikap tersebut didengar dan mendapat tindaklanjut.

“Kami harap pernyataan sikap ini ditindaklanjuti segera,” ujar Aliknoe dalam orasinya.

Usai menyampaikan orasi terkait penolakan otsus jilid II, para pengunjuk rasa langsung menggelar doa bersama dan membubarkan diri dengan tertib.

Sebelumnya, massa Aksi Penolakan Otsus Jilid II melakukan aksi long march dari kampus UNIPA menuju ke kantor DPR Papua barat, Manokwari.

Berdasarkan rilis yang diterima dari Polda PB melalui Polres Manokwari, para pendemo tampak membawa sejumlah atribut mulai dari famlet hingga spanduk bertuliskan penolakan terhadap Otsus jilid II.

Massa awalnya berkumpul di Kampus UNIPA pada pukul 08.40 WIT.

Mereka lalu melakukan long march menuju gedung DPRPB dengan pengawalan aparat kepolisian.(*)

Pos terkait